Senin, 16 Mei 2016

Katakan "Tidak'' untuk Korupsi Sejak Dini


“BIBIT-BIBIT CALON PEMANGKU KEKUASAAN INDONESIA YANG BERSIH DARI KORUPSI”

Hai kak, tadi pagi seperti biasa rutinitas kita para swayanakers ke sekolah binaan mengajarkan pendidikan tentang kejujuran dan anti korupsi. Yap! Tentunya tema kegiatan di sekolah binaan kita kali ini adalah eng ing eng … “Pendidikan tentang kejujuran dan antikorupsi”. Tujuannya yaitu mendidik dan mengajak adik-adik agar selalu jujur dan tidak melakukan korupsi sekecil apapun itu. Memang bukan hal yang asing lagi ya kak kalau kita sebagai warga Negara Indonesia berbicara tentang korupsi. Sudah banyak sekali kasus korupsi di Negara kita ini seolah-olah sudah menjadi fenomena sosial yang sulit diberantas karena sudah begitu membudaya dan merajalela di seluruh lapisan masyarakat. Bukan hanya di kalangan para petinggi negara dan di masyarakat juga ya kak, bahkan mirisnya dikalangan anak-anak pun sudah membudaya.
Maka dari itu kak, penting sekali kita menanamkan pendidikan kejujuran dan antikorupsi sejak usia dini. Sebenarnya dalam hal ini, keluarga yang memegang peranan penting dalam mendidik dan membentuk akhlak anak. Mengapa? Karena lingkungan berpengaruh 80% atas sikap anak, terutama keluarga yang paling dekat dan memiliki waktu lebih banyak bersama anak. Dan juga anak-anak merupakan peniru yang ulung. Belajar bertingkah laku dengan meniru tingkah laku yang datang dari keluarga, lingkungan sekitar dan media massa. Namun jika hanya mengandalkan peran dari orang tua tidaklah cukup ya kak, maka dari itu kita para swayanakers terjun langsung ke sekolah binaan serta berperan aktif untuk mendidik adik-adik agar memiliki akhlak yang baik, menjadi teladan yang baik, berperilaku sopan, selalu jujur dalam perkataan dan perbuatannya.
Yuks sudah cukup basa-basinya. Sekarang kita langsung saja kegiatan apa saja sih yang dilakukan para kakak swayanakers di sekolah binaan dalam mengajarkan pendidikan kejujuran dan antikorupsi? Let’s chek this out!
Pertama, kita selalu mengajarkan untuk berdoa telebih dahulu sebelum kegiatan ya kak. Setelah itu mengajak adik-adik senam pinguin selama 5 menit saja agar mereka fresh dan lebih semangat lagi nantinya. Karena mengajar melalui metode konvensional seperti ceramah sangat membosankan sekali, apalagi untuk anak SD yang kebosananmya cepat sekali muncul saat pembelajaran berlangsung, maka kita para kakak-kakak swayanakers menggunakan media komik strip untuk mengajarkan pendidikan kejujuran dan antikorupsi. Nantinya, para kakak-kakak swayanakers akan bercerita kepada adik-adik melalui komik strip sesuai dengan teknik dan taktiknya masing-masing agar adik-adik mau mendengarkan dengan baik. Komik strip ini bercerita tentang Chalista dan Mamanya yang sedang menonton acara televisi berita korupsi pejabat negara. Chalista berfikir jika mengambil uang sedikit saja bukan dinamakan korupsi. Sehingga dipagi hari sebelum berangkat sekolah, Chalista mengambil sedikit uang Mamanya. Singkat cerita, pada malam hari sebelum tidur Chalista membayangkan sesuatu jika nanti uangnya banyak karena setiap hari mengambil dari uang Mamanya, itu berarti dia sudah korupsi. Setelah menyadari bahwa yang dilakukannya salah, maka Chalista memutuskan untuk tidak mengambil uang Mamanya lagi. The End. Sederhana sekali ya kak ceritanya. Namun dari sana kita bisa mengajarkan kepada adik-adik bahwa mengambil yang bukan miliknya sedikit apapun itu, itu adalah perbuatan yang tidak baik dan itu adalah salah satu korupsi. Selain bercerita didalam kelas, ada beberapa dari kakak-kakak swayanakers yang mengajak adik-adik untuk belajar diluar halaman agar mereka tidak cepat bosan. Bukan hanya para kakak-kakak swayanakers saja yang bercerita ya kak, tetapi ada yang berani menceritakan kembali di depan teman-temannya. Wah, apresiasi sekali ya kak sikap beraninya. Karena kebanyakan adik-adik masih malu ketika berada didepan teman-temannya, apalagi menceritakan kembali apa yang telah disampaikan.

Agar tidak bosan dan kembali membangun semangat adik-adik, kita juga selipkan beberapa ice breaking ya kak. Sebenarnya kondisional saja, ice breaking bisa dilakukan tergantung para kakak-kakak swayanakers yang bertanggung jawab disetiap kelasnya. Ice breaking-nya permainan konsentrasi, yaitu lempar spidol dan bercermin. Sudah tahu belum kak permainan konsentrasi lempar spidol dan bercermin? Yang pertama permainan lempar spidol. Sederhana saja permainannya, ketika kakak swayanakers melempar sebuah spidol, adik-adik harus bertepuk tangan sampai spidol yang dilempar tadi sudah ada ditangan kakak swayanakers lagi. Bertepuk tangan bisa saja diganti dengan yang lainnya misalkan tertawa.

Sedangkan permainan bercermin hanya mengikuti gerakan teman yang ada dihadapannya. Permainannya dilakukan oleh dua orang yang saling berhadap-hadapan. Satu orang sebagai cermin dan satu orang lagi sebagai yang sedang bercermin. Adik yang sebagai cermin harus meniru segala gerakan temannya yang sedang bercermin. Permainannya bisa dilakukan secara bergantian.

Akhir dari kegiatan, kita kembali lagi pada pendidikan kejujuran dan antikorupsi. Pada kelas 1 dan 2 menempeli gambar tentang kejujuran dan antikorupsi menggunakan beras warna warni. Mengapa sederhana sekali hanya menempeli gambar? Kembali lagi ya kak, kita lihat kemampuan dari adik-adik kelas 1 dan 2. Hal yang sederhana namun berhasil kita ajarkan kepada adik-adik hingga tertanam dalam dirinya itu lebih baik dibandingkan hal yang diyakinkan bisa memberi dampak bagus namun kenyataannya nihil tidak bermakna sama sekali.



Namun, karena ada beberapa dari adik-adik di kelas 1 dan 2 kesulitan dalam menempeli gambar korupsi diatas maka diganti dengan menempeli gambar bunga.


Untuk kelas 3 sampai dengan kelas 5 kegiatan akhirnya hanya bermain games saja ya kak. Yaitu games langkah benar dan salah; ikuti petunjuk arah. Games langkah benar dan salah hanya permainan matematika saja antara penjumlahan dan pengurangan. Misalkan benar bernilai +1 dan salah bernilai -1. Jika ada soal benar benar salah maka hasilnya adalah +1 (+1+1-1=+1). Sedangkan permainan ikuti petunjuk arah hanya mengikuti petunjuk arah kanan kiri depan belakang yang di instruksi oleh kakak swayanakers. Memang gamesnya tidak sesuai dengan tema kali ini ya kak, sebenarnya ada games jual-beli berbagai kacang-kacangan untuk melatih kejujuran mereka dan menghasilkan sebuah karya dari hasil jual-beli kacang-kacangan tadi. Namun, karena kita melihat kondisi adik-adik yang super duper sekali aktifnya sampai kita kewalahan dalam mengontrolnya, maka kita batalkan saja games itu dan menggantinya dengan games yang lebih sederhana. Tentunya adik-adik yang memenangkan games dan hasil karya menempeli gambar terbaik kita berikan reward ya kak, yaitu kita berikan mereka alat-alat tulis.
Oh iya kak, satu hal lagi sebenarnya kita mau adakan kantin kejujuran. Namun, karena disana sudah ada ibu-ibu yang berjualan, kami takut mengganggu penghasilan dari ibu-ibu di kantin. Padahal kantin kejujuran, adalah salah satu cara yang sederhana untuk melihat berhasil tidaknya pendidikan tentang kejujuran dan antikorupsi yang telah kita ajarkan.
Terakhir, apresiasi kepada adik-adik karena sudah bisa menyimpulkan sendiri apa yang telah diajarkan oleh kakak swayanakers dan bisa menyebutkan contoh korupsi didalam kelas seperti korupsi waktu jam pelajaran, telat masuk kelas, bolos, menyontek dan mengambil barang milik temannya. Tidak lupa kita tutup kegiatan dengan doa ya kak, agar kegiatan kita menjadi bermanfaat.
Education is the most powerful weapon which you can use to change the world – Nelson Mandela
Mari kita berikan pendidikan terbaik bagi adik-adik dalam upaya memberantas korupsi di Indonesia sampai benar-benar bersih sampai ke akar-akarnya karena memang bukan hal yang mudah ya kak. Namun akan selalu ada cara selama kita mau berusaha. Salah satunya yaitu menanamkan nilai-nilai moral, budaya antikorupsi pada anak-anak sejak usia dini. Serta bagaimana berperilaku “baik” dan “tidak baik”. Karena anak-anak merupakan generasi penerus bangsa. Jika sejak kecil mereka sudah terbiasa hidup bersih, maka sampai dewasa pun kebiasaan itu akan tetap terpelihara. Semoga apa yang telah diajarkan para kakak swayanakers bisa bermakna dan tertanam baik di dalam diri adik-adik di sekolah binaan. Semangat untuk bibit-bibit calon pemangku kekuasaan Indonesia yang bersih dari korupsi!

Oleh :
Lely Yuliyanti
Arlin Muzdalifah
Universitas Jember
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Program Studi Pendidikan Fisika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar