“BIBIT-BIBIT
CALON PEMANGKU KEKUASAAN INDONESIA YANG BERSIH DARI KORUPSI”
Hai
kak, tadi pagi seperti biasa rutinitas kita para swayanakers ke sekolah binaan
mengajarkan pendidikan tentang kejujuran dan anti korupsi. Yap! Tentunya tema
kegiatan di sekolah binaan kita kali ini adalah eng ing eng … “Pendidikan
tentang kejujuran dan antikorupsi”. Tujuannya yaitu mendidik dan mengajak
adik-adik agar selalu jujur dan tidak melakukan korupsi sekecil apapun itu.
Memang bukan hal yang asing lagi ya kak kalau kita sebagai warga Negara
Indonesia berbicara tentang korupsi. Sudah banyak sekali kasus korupsi di Negara
kita ini seolah-olah sudah menjadi fenomena sosial yang sulit diberantas karena
sudah begitu membudaya dan merajalela di seluruh lapisan masyarakat. Bukan
hanya di kalangan para petinggi negara dan di masyarakat juga ya kak, bahkan
mirisnya dikalangan anak-anak pun sudah membudaya.
Maka
dari itu kak, penting sekali kita menanamkan pendidikan kejujuran dan
antikorupsi sejak usia dini. Sebenarnya dalam hal ini, keluarga yang memegang
peranan penting dalam mendidik dan membentuk akhlak anak. Mengapa? Karena
lingkungan berpengaruh 80% atas sikap anak, terutama keluarga yang paling dekat
dan memiliki waktu lebih banyak bersama anak. Dan juga anak-anak merupakan
peniru yang ulung. Belajar bertingkah laku dengan meniru tingkah laku yang datang
dari keluarga, lingkungan sekitar dan media massa. Namun jika hanya
mengandalkan peran dari orang tua tidaklah cukup ya kak, maka dari itu kita
para swayanakers terjun langsung ke sekolah binaan serta berperan aktif untuk
mendidik adik-adik agar memiliki akhlak yang baik, menjadi teladan yang baik,
berperilaku sopan, selalu jujur dalam perkataan dan perbuatannya.
Yuks
sudah cukup basa-basinya. Sekarang kita langsung saja kegiatan apa saja sih
yang dilakukan para kakak swayanakers di sekolah binaan dalam mengajarkan
pendidikan kejujuran dan antikorupsi? Let’s chek this out!
Pertama,
kita selalu mengajarkan untuk berdoa telebih dahulu sebelum kegiatan ya kak.
Setelah itu mengajak adik-adik senam pinguin selama 5 menit saja agar mereka
fresh dan lebih semangat lagi nantinya. Karena mengajar melalui metode
konvensional seperti ceramah sangat membosankan sekali, apalagi untuk anak SD
yang kebosananmya cepat sekali muncul saat pembelajaran berlangsung, maka kita
para kakak-kakak swayanakers menggunakan media komik strip untuk mengajarkan
pendidikan kejujuran dan antikorupsi. Nantinya, para kakak-kakak swayanakers
akan bercerita kepada adik-adik melalui komik strip sesuai dengan teknik dan
taktiknya masing-masing agar adik-adik mau mendengarkan dengan baik. Komik
strip ini bercerita tentang Chalista dan Mamanya yang sedang menonton acara
televisi berita korupsi pejabat negara. Chalista berfikir jika mengambil uang
sedikit saja bukan dinamakan korupsi. Sehingga dipagi hari sebelum berangkat
sekolah, Chalista mengambil sedikit uang Mamanya. Singkat cerita, pada malam
hari sebelum tidur Chalista membayangkan sesuatu jika nanti uangnya banyak
karena setiap hari mengambil dari uang Mamanya, itu berarti dia sudah korupsi.
Setelah menyadari bahwa yang dilakukannya salah, maka Chalista memutuskan untuk
tidak mengambil uang Mamanya lagi. The End. Sederhana sekali ya kak ceritanya.
Namun dari sana kita bisa mengajarkan kepada adik-adik bahwa mengambil yang
bukan miliknya sedikit apapun itu, itu adalah perbuatan yang tidak baik dan itu
adalah salah satu korupsi. Selain bercerita didalam kelas, ada beberapa dari
kakak-kakak swayanakers yang mengajak adik-adik untuk belajar diluar halaman
agar mereka tidak cepat bosan. Bukan hanya para kakak-kakak swayanakers saja
yang bercerita ya kak, tetapi ada yang berani menceritakan kembali di depan
teman-temannya. Wah, apresiasi sekali ya kak sikap beraninya. Karena kebanyakan
adik-adik masih malu ketika berada didepan teman-temannya, apalagi menceritakan
kembali apa yang telah disampaikan.
Agar
tidak bosan dan kembali membangun semangat adik-adik, kita juga selipkan
beberapa ice breaking ya kak. Sebenarnya kondisional saja, ice breaking bisa
dilakukan tergantung para kakak-kakak swayanakers yang bertanggung jawab
disetiap kelasnya. Ice breaking-nya permainan konsentrasi, yaitu lempar spidol
dan bercermin. Sudah tahu belum kak permainan konsentrasi lempar spidol dan
bercermin? Yang pertama permainan lempar spidol. Sederhana saja permainannya,
ketika kakak swayanakers melempar sebuah spidol, adik-adik harus bertepuk
tangan sampai spidol yang dilempar tadi sudah ada ditangan kakak swayanakers
lagi. Bertepuk tangan bisa saja diganti dengan yang lainnya misalkan tertawa.
Sedangkan
permainan bercermin hanya mengikuti gerakan teman yang ada dihadapannya.
Permainannya dilakukan oleh dua orang yang saling berhadap-hadapan. Satu orang
sebagai cermin dan satu orang lagi sebagai yang sedang bercermin. Adik yang
sebagai cermin harus meniru segala gerakan temannya yang sedang bercermin.
Permainannya bisa dilakukan secara bergantian.
Akhir
dari kegiatan, kita kembali lagi pada pendidikan kejujuran dan antikorupsi.
Pada kelas 1 dan 2 menempeli gambar tentang kejujuran dan antikorupsi
menggunakan beras warna warni. Mengapa sederhana sekali hanya menempeli gambar?
Kembali lagi ya kak, kita lihat kemampuan dari adik-adik kelas 1 dan 2. Hal
yang sederhana namun berhasil kita ajarkan kepada adik-adik hingga tertanam
dalam dirinya itu lebih baik dibandingkan hal yang diyakinkan bisa memberi
dampak bagus namun kenyataannya nihil tidak bermakna sama sekali.
Namun,
karena ada beberapa dari adik-adik di kelas 1 dan 2 kesulitan dalam menempeli
gambar korupsi diatas maka diganti dengan menempeli gambar bunga.
Untuk
kelas 3 sampai dengan kelas 5 kegiatan akhirnya hanya bermain games saja ya kak.
Yaitu games langkah benar dan salah; ikuti petunjuk arah. Games langkah benar
dan salah hanya permainan matematika saja antara penjumlahan dan pengurangan.
Misalkan benar bernilai +1 dan salah bernilai -1. Jika ada soal benar benar
salah maka hasilnya adalah +1 (+1+1-1=+1). Sedangkan permainan ikuti petunjuk
arah hanya mengikuti petunjuk arah kanan kiri depan belakang yang di instruksi
oleh kakak swayanakers. Memang gamesnya tidak sesuai dengan tema kali ini ya
kak, sebenarnya ada games jual-beli berbagai kacang-kacangan untuk melatih
kejujuran mereka dan menghasilkan sebuah karya dari hasil jual-beli
kacang-kacangan tadi. Namun, karena kita melihat kondisi adik-adik yang super
duper sekali aktifnya sampai kita kewalahan dalam mengontrolnya, maka kita
batalkan saja games itu dan menggantinya dengan games yang lebih sederhana. Tentunya
adik-adik yang memenangkan games dan hasil karya menempeli gambar terbaik kita
berikan reward ya kak, yaitu kita berikan mereka alat-alat tulis.
Oh
iya kak, satu hal lagi sebenarnya kita mau adakan kantin kejujuran. Namun,
karena disana sudah ada ibu-ibu yang berjualan, kami takut mengganggu
penghasilan dari ibu-ibu di kantin. Padahal kantin kejujuran, adalah salah satu
cara yang sederhana untuk melihat berhasil tidaknya pendidikan tentang
kejujuran dan antikorupsi yang telah kita ajarkan.
Terakhir,
apresiasi kepada adik-adik karena sudah bisa menyimpulkan sendiri apa yang
telah diajarkan oleh kakak swayanakers dan bisa menyebutkan contoh korupsi
didalam kelas seperti korupsi waktu jam pelajaran, telat masuk kelas, bolos, menyontek
dan mengambil barang milik temannya. Tidak lupa kita tutup kegiatan dengan doa
ya kak, agar kegiatan kita menjadi bermanfaat.
Education is the most powerful
weapon which you can use to change the world – Nelson Mandela
Mari
kita berikan pendidikan terbaik bagi adik-adik dalam upaya memberantas korupsi
di Indonesia sampai benar-benar bersih sampai ke akar-akarnya karena memang
bukan hal yang mudah ya kak. Namun akan selalu ada cara selama kita mau
berusaha. Salah satunya yaitu menanamkan nilai-nilai moral, budaya antikorupsi
pada anak-anak sejak usia dini. Serta bagaimana berperilaku “baik” dan “tidak
baik”. Karena anak-anak merupakan generasi penerus bangsa. Jika sejak kecil
mereka sudah terbiasa hidup bersih, maka sampai dewasa pun kebiasaan itu akan
tetap terpelihara. Semoga apa yang telah diajarkan para kakak swayanakers bisa
bermakna dan tertanam baik di dalam diri adik-adik di sekolah binaan. Semangat
untuk bibit-bibit calon pemangku kekuasaan Indonesia yang bersih dari korupsi!
Oleh
:
Lely Yuliyanti
Arlin Muzdalifah
Universitas
Jember
Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Program Studi
Pendidikan Fisika








Tidak ada komentar:
Posting Komentar