Virus yang muncul di china pada akhir tahun 2019, dengan cepat merebak ke berbagai penjuru dunia. Tepat pada tanggal 11 Maret WHO secara resmi mengumumkan bahwa virus ini, yang diberi nama covid-19, telah mejadi pandemi global. Bagaikan angin badai, virus ini tidak mengenal target yang ia tuju, anak muda, orang tua, laki-laki, perempuan dan siapapun bisa menjadi korbannya. Tak hanya manusia, berbagai sektor pun terkena imbasnya. Sektor pariwisata misalnya, bisnisnya menjadi lesu lantaran setiap orang memilih berdiam diri dirumah untuk menghindari dari resiko tertular virus berbahaya ini. Sektor lain yang terkena imbasnya adalah dunia pendidikan. Tak tanggung-tanggung, virus ini memaksa para stakeholder membuat perubahan yang cukup radikal dalam dunia pendidikan, yaitu dengan merubah sistem belajar mengajar yang tadinya dilaksanakan didalam kelas dengan bertatap muka, menjadi sistem daring (dalam jaringan) dengan memanfaatkan berbagai layanan media sosial seperti google meet, zoom, whatsapp dan yang lainnya.
Pergantian sistem belajar menjadi daring memiliki beberapa kelebihan, sebagaimana yang dikutip dari lama kompasiana.com bahwa beberapa kelebihan dari belajar daring adalah waktu belajar menjadi lebih singkat karna waktu bisa digunakan lebih efisien, kemudian pendidikan Indonesia lebih maju karna relevan dengan perkembangan teknologi dan belajar secara daring dapat lebih mengembangkan siswa, karna dengan waktu yang lebih singkat, siswa dapat mengembangkan dirinya dalam hal yang lain.
Akan tetapi, perubahan sistem ini juga tak terlepas dari dampak buruk yang ditimbulkannya, bahkan cenderung lebih banyak secara kuantitas karna berhubungan dengan masalah teknis dan non teknis. Masih dikutip dari laman kompasiana.com, permaslahn teknis misalnya ketersediaan alat komunikasi yang mana tidak semua pelajar memilikinya, kemudian ketersediaan kuota internet, yang mana kuliah online akan sangat banyak menghabiskan kuota dan juga kestabilan sambungan internet, yang tak jarang siswa tiba-tiba keluar dari pertemuan kelas karna terputus dari jaringan ketika sedang pertemuan daring. Untuk hal-hal non teknis diantaranya adalah tugas yang menumpuk karna terkadang substansi materi yang diberikan menjadi berkurang akibat dibatasi oleh sistem daring. Kemudian berargumen menjadi lebih sulit karna terkadang terkendala jaringan yang tidak stabil dan bahkan terkadang mendapatkan materi belajar yang cenderung sulit. Bahkan efek buruk yang ditimbulkan bisa sampai mempengaruhi psikologis dari anak. Dikutip dari laman redaksi24.com disebutkan bahwa dampak belajar via daring dapat menyebabkan kebosanan pada anak karna berada dirumah saja, juga anak dituntut untuk beradaptasi belajar dirumah yang sangat berbeda dengan belajar dikelas, sehingga hal-hal ini akan berakibat pada psikis anak dan bisa menimbulkan stress pada anak.
Menyadari akan hal ini, Swayanaka Indonesia berupaya membantu adik-adik dalam permasalahan yang sedang mereka hadapi. Apa yang coba dilakukan oleh Swayanaka tidak kepada pelajaran wajib seperti yang biasa diajarkan didalam kelas, namun lebih kepada pembentukan karakter adik-adik agar mereka tidak kehilanagan tujuan mereka selama mereka belajar dirumah. Dengan tema "PELANGI DIRIKU MEMBANGUN KARAKTER ANAK INDONESIA" Swayanaka Indonesia bersama Swayanaka dari berbagai regional, bersama-sama membina adik-adik binaan masing-masing untuk lebih jauh mengenal karakter dan tujuan yang mereka inginkan melalui program Swayanaka on Coming School (SOCS).
![]() |
| Tema yang diangkat |
SOCS merupakan sebuah program yang bertujuan untuk menanggapi isu sosial anak-anak yang sering terjadi disekolah dan program ini hadir untuk mengatasi hal tersebut dengan langsung terjun ke sekolah sasaran. Pada dasarnya SOCS merupakan program rutin yang dijalankan Swayanaka di setiap regional, isu yang diangkat bisa beragam, tergantung dari situasi dan kondisi lingkungan sekitar regional. Namun untuk SOCS yang akan dilakukan nanti memiliki perbedaan dibandingkan dengan SOCS sebelumnya. Jika sebelumnya team dari swayanaka (biasa disebut dengan kakak pembimbing) terjun secara langsung kesekolah dan bertemu dengan adik-adik binaan, maka untuk SOCS kali ini kakak pembimbing akan bertemu dengan adik-adik binaan dengan menggunakan media sosial. Tema yang diangkatpun berbeda, jika sebelumnya lebih kepada isu sosial dilingkungan sekolah, maka saat ini tema yang diangkat adalah pengenalan dan membangun karakter anak didik.
Sebagaimana yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahawa penggunaan sistem daring menghadirkan berbagai permasalahan. Maka, pelaksanaan SOCS kali ini pun sangat dimungkinkan mengalami permasalahan serupa baik dari sisi kakak pembimbing seperti mempertahankan fokus adik binaan selama kelas berlangsung, atau permasalahan-permasalahan yang bersifat teknis. Maka dari itu Untuk mengatasi hal ini, Swayanaka Indonesia berkolaborasi dengan stakeholder yang berpengalaman dibindangnya mengembangkan sebuah pelatihan untuk kakak pembimbing dengan tujuan agar kakak pembimbing lebih siap dalam menghadapi berbagai permasalahan yang akan ditemui nantinya.
Pelatihan yang diberikan dibagi kedalam 2 tahapan, tahapan 1 dilakukan di hari pertama dan tahapan 2 dilakukan dihari kedua. Dihari pertama, kakak pembimbing diberikan beberapa materi, diantaranya adalah experimental learning dan debriefing. Experimental learning merupakan sebuah proses memaknai pembelajaran dimana objek merasakan langsung pengalaman yang terjadi baik itu dikondisikan ataupun secara alamiah. Penerapan experimental learning bagi adik binaan dimaksutkan agar mereka dapat merasakan secara langsung materi yang diberikan dengan cara dikemas sedemikian rupa. Hal ini dapat memberikan pengalaman yang berbeda bagi mereka, sehingga adik binaan dapat lebih mudah dalam memahami substansi materi yang diberikan. Materi berikutnya merupakan debriefing, yaitu sebuah metode memaknai pengalaman dan menjadikannya sebagai landasan untuk penyesuaian diri yang selaras dengan tujuan pembelajaran yang disasar, atau secara sederhana debriefing merupakan lanjutan dari experimental learning yang mana mengharuskan adik binaan untuk lebih dalam saat memahami tujuan yang diinginkannya sehingga ia terbiasa dengan tujuan tersebut.
![]() |
| Pembekalan hari pertama |
![]() |
| Pembekalan hari kedua |
Berbeda dengan hari pertama, pada hari kedua dilakukan sebuah simulasi (role play) dimana kakak pembimbing secara bergantian bermain peran menjadi adik binaan dengan sifat yang sudah ditentukan sebelumnya. Simulasi dilakukan dengan cara membagi kaka pembimbing kedalam beberapa kelas yang masing-masing kelas dimonitoring oleh seorang pemateri. Tujuan dari dilakukannya simulasi ini adalah untuk mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman kakak pembimbing terhadap materi yang sudah diberikan sebelumnya, juga untuk memberikan pengalaman kakak pembimbing terhadap permasalahan yang akan ia temui nantinya ketika bertemu dengan adik-adik binaan.
Kami semua berharap, dengan hadirnya SOCS ini kami dapat membantu adik-adik binaan untuk lebih mengenal diri mereka sendiri dan memberikan gambaran kepada mereka akan apa yang ingin mereka capai kedepannya. Tak hanya itu, kami juga berharap dengan dilakukannya kegiatan SOCS ini, adik-adik binaan menjadi lebih semangat dalam belajar dan mengejar cita-cita mereka. (MFF)
Referensi :
Hendra. 2020. Ini dampak negatif belajar via daring menurut psikologi dan cara mengatasinya. URL : https://www.redaksi24.com/ini-dampak-negatif-belajar-via-daring-menurut-psikolog-dan-cara-mengatasinya/#:~:text=%E2%80%9CDampak%20belajar%20 via%20daring%20yang,tertekan%20pada%20psikis%20anak%20dan. Dikases tanggal 28 Oktober 2020.
Kelek, T. 2020. Kelebihan dan kekurangan belajar online. URL : https://www.kompasiana.com/tobiaznathanael/5eaba764097f365de064fde2/kelebihan-dan-kekurangan-belajar-online. Diakses pada tanggal 28 Oktober 2020.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar