Pada tangal 10 November Indonesia meperingati hari
pahlawan yang mana bertujuan memperingati pertempuran di Surabaya yang pernah
terjadi pada tanggal 10 November 1945. Pertempuran ini bermula saat pihak
Belanda mengibarkan bendera Belanda di hotel Yamato Surabaya. Hal ini tentu
memancing kemarahan bangsa Indonesia. Mereka kemudian menaiki hotel Yamato dan
merobek bagian berwarna biru dari bendera sehingga hanya tersisa warna merah
putih saja. Kejadian ini memicu pertempuaran di Surabaya. Melihat kejadian ini
pihak Belandan meminta kepada Ir. Soekarno untuk meredakan situasi. Keadaan
sempat stabil setelah kedua belah pihak menandatangi perjanjian damai, namun
karna suatu kesalah pahaman salah seorang Brigjen inggris Brigadir Jenderal
Mallaby terbunuh. Atas kejadian ini pihak inggris marah dan melakukan
pembersihan berdarah, lantas arek-arek Surabaya pun melawan dan bertempur
hingga gugur ribuan pahlawan bangsa. Hari nasional ini ditetapkan melalui keppers
No. 316 Tahun 1959 tepatnya pada tanggal 16 Desember 1959.
Swayanaka regional Jember sebagai bentuk kepedulian
terhadap anak-anak dan juga sebagai bentuk menjalankan kewajibannya selaku
organisasi, melakukan kegiatan memperingati hari pahlawan pada tanggal 10 November
2019 dengan tema “penanaman sifat pancasila sebagai wujud jiwa patriotisme
kepada anak-anak” yang berlokasi di Polindes Desa Pakusari. Dalam melakukan
acara ini Swayanaka Jember bekerja sama dengan kasun Desa setempat, mulai dari
survey lokasi, perizinan tempat, pengumpulan massa dan juga penyambung mulut
kepada masyarakat dalam mempromosikan acara yang akan dilakukan. Pemilihan desa
Pakusari sebagai objek acara selain karna sudah menajdi desa binaan swayanaka
sejak periode sebelumnya juga dikarnakan banyaknya jumlah anak-anak dan juga
pendidikan warga setempat masih sangat kurang. Menurut data statistik oleh
Badan Pusat Statistik Kabupaten Jember pada tahun 2018 jumlah kelompok umur 0
sampai 14 tahun memiliki jumlah penduduk yang sangat tinggi, sekitar 3.200 jiwa
untuk kelompok umur 0-4 tahun, 3.400 jiwa untuk kelompok umur 5-9 tahun dan
sekitar 3.00 jiwa untuk kelompok umur 10-14 tahun.
Sasaran utama dalam kegiatan ini adalah anak-anak tingkat
TK dan juga SD, namun tidak menutup kemungkinan terkadang ada anak-anak tingkat
SMP yang ikut bergabung. Dalam merancang kegiatan yang dilakukan, swayanaka
menggunakan nilai-nilai pancasila dalam membuat dasar kegiatan acara untuk
menerapkan sikap pahlawan kepada anak-anak yang dikemas dalam bentuk games
interaktif. Games yang dilaksanakan ada 5 macam mengikuti banyaknya sila dalam
pancasila. Penggunaan pancasila sebagai landasan dasar games adalah mengingat
pancasila digunakan sebagai dasar negara dan harus dimiliki setiap warga negara
Indonesia, tanpa nilai pancasila dalam diri masyarakat maka tidak mungkin ada
rasa cinta terhadap tanah air, juga tidak mugkin timbul jiwa patriotisme dalam
diri individu tanpa terlebih dahulu cinta kepada negaranya. Sila pertama
pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa dikemas dalam bentuk game tanya jawab
yang dibuka dengan menceritakan kisah nabi dan rosul, serta kisah-kisah
inspiratif yang mengharuskan seseorang beriman kepada Tuhan Ynag Maha Esa.
Sila kedua pancasila, kemanusiaan yang adil dan beradab
dikemas dalam bentuk game yang sama dengan sila pertama. Cerita yang digunakan
bisa menggambarkan seseorang yang beradab dan tidak menyombongkan diri atas
kelebihan yang dimiliki, dan juga salalu membantu teman yang berada dalam
kesulitan. Harapannya dari games ini anak-anak peserta acara bisa lebih menghargai
sesama dan memiliki sifat yang rendah diri.
Sila ketiga pancasila yaitu persatuan Indonesia dikemas
dalam game yang bertemakan kerjasama, game berupa sekelompok anak yang diikat
dengan tali rafia di perutnya dan disatukan dengan anak-anak lain. Ditengah
pertemuan tali rafia terdapat sebuah pulpen yang mana pulpen ini harus
dimasukkan kedalam botol. Games ini membutuhkan koordinasi dan kerjasama yang
baik antar tiap anak dalam kelompok untuk bisa mengarahkan pulpen ke bibir
botol. Harapannya setelah melakukan game ini anak-anak bisa mengerti pentingya
sebuah kerjasama dalam menyelesaikan sebuah masalah dan tidak memaksakan
kehendak pribadi.
Sila keempat pancasila, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan perwakilan. Dalam
games bertemakan sila keempat pancasila ini nilai yang ingin diterapkan kepada
adik-adik adalah untuk bisa mengikuti perintah yang diberikan dan memaknainya
dengan baik sehingga tidak menimbulkan perpecahan. Game yang dibawakan adalah
adik-adik diaruskan mengikuti gerakan yang diperintahkan oleh pembawa acara,
terkadang perintah yang dibawakan berlawanan dengan gerakan yang sebelumnya
sudah diajarkan sehingga pengambilan keputusan yang tepat oleh adik-adik sangat
penting pada sesi ini.
Sila
kelima yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Game yang dibawakan
pada sesi ini mengutamakan keadilan yang didapatkan dalam kelompok, apabila
salah seorang mendapatkan sesuatu maka yang lain juga harus mendapatkannya
sesuai porsi yang dibutuhkan, karna makna keadilan bukan hanya berarti kesamaan
porsi tapi kesamaan sesuai kebutuhnnya. Game yang diterapkan yaitu adik-adik
peserta dalam satu kelompok diharuskan untuk menempati sepetak kotak yang
luasnya sudah ditentukan menggunakan sebelah atau kedua kakinya dan tidak boleh
menginjak tanah, dengan kerjasama dan koordinasi yang baik adik-adik bisa
melakukannya.
Dari
kelima games diatas, semuanya diaharapkan bisa diterapkan oleh adik-adik
peserta dalam kehidupan sehari-hari, juga diharapkan dengan games ini adik-adik
lebih mengerti tentang kandungan pancasila dan penerapannya serta memiliki rasa
cinta tanah air dan jiwa patriotisme. Kedepannya Swayanaka regional Jember
memilki keinginan untuk materi yang dibawakan tidak hanya sekedar bertema
tematik namun bisa terus dipantau dan memiliki kesinambungan dengan
proker-proker yang akan dilaksanakan berikutnya tanpa mengurangi atau
menghilangkan esensi kegiatan yang akan dilakukan berikutnya. Dengan terus
membina adik-adik ini dengan nilai-nilai yang baik, kami harap mereka akan
mampu menjadi pribadi yang jauh lebih baik untuk kemajuan Indonesia, minimal
dalam waktu dekat mereka mampu memajukan daerah sekitar tempat mereka tinggal. “Beri
aku 1000 orang tua, niscahya akan aku cabut semeru dari akarnya. Beri aku 10
pemuda niscahya akan kuguncangkan dunia” -Ir. Soekarno. #swayanaka #welovewecareweshare
MFF


Tidak ada komentar:
Posting Komentar